SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN FAKULTAS TARBIYAH

SHARE

Kisaran (14/01/2020) – Bergulirnya Revolusi Industri 4.0 menuntut lulusan Perguruan Tinggi untuk mampu bersaing secara global. Era digital telah mengubah pola interaksi manusia modern, ia mempengaruhi banyak aspek dalam kehidupan, termasuk di bidang pendidikan. Proses digitalisasi telah melahirkan banyak lapangan kerja baru, namun di sisi lain juga menghilangkan banyak lapangan pekerjaan konvensional yang telah eksis sebelumnya, kondisi ini jamak dikenal dengan istilah era disrupsi. Dalam upaya meningkatkan pemahaman dan kesadaran sivitas akademika dalam mengahadapi era disrupsi ini, Fakultas Tarbiyah IAIDU Asahan Kisaran menggelar Seminar Nasional Pendidikan Islam pada Selasa, 14 Januari 2020 di Aula Kampus IAIDU Asahan, Jalan Mahoni Sibogat Kisaran. Acara ini diikuti oleh Dosen dan Mahasiswa dari tiga Program Studi di lingkungan Fakultas Tarbiyah IAIDU Asahan, yaitu: Manajemen Pendidikan Islam (MPI), Pendidikan Agama Islam (PAI), Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD). Seminar Nasional yang mengusung tema “Manajemen Pendidikan Islam dan Bimbingan Konseling Islam dalam Memainkan Perannya di Era Revolusi Industri 4.0” tersebut menghadirkan dua orang Guru Besar Pendidikan Islam dari UIN Sumatera Utara, yaitu Prof. Dr. Syafaruddin, M.Pd. dan Prof. Dr. Saiful Akhyar Lubis, MA sebagai Narasumber. Kegiatan seminar diawali dengan sambutan dari Dekan Fakultas Tabiyah, Drs. Imran Situmorang, MA., dan dibuka secara langsung oleh Rektor IAIDU Asahan, Drs. H. A. Muin Isma Nasution. Dalam sesi penyampaian materi, Prof. Syafaruddin selaku narasumber mengungkapkan bahwa perkembangan teknologi memiliki dampak positif dan negatif. Oleh sebab itu, penting bagi kalangan sivitas akademika khususnya untuk menerapkan fungsi manajemen dalam penggunaan teknologi, sehingga tekonologi tersebut dapat digunakan seefisien mungkin untuk meningkatkan kinerja, serta dalam mengembangkan metode dan proses pembelajaran guna menghasilkan ouput yang optimal. Lebih lanjut, Prof. Syaiful Akhyar menekankan bahwa perkembangan tekonologi harus diiringi dengan penguatan moralitas yang bersifat religius dan transendental. Ia menjelaskan bahwa hakikat manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan mengharuskan adanya kepatuhan terhadap hukum-hukum Tuhan atau nilai-nilai Ilahiyah yang tidak selamanya mampu dijangkau oleh sains dan tekonologi. “Hakikat manusia hanya bisa diurus oleh hukum-hukum Tuhan. Ruh itu urusan Tuhan tidak bisa dijangkau oleh sains dan teknologi. Maka dari itu, dalam konsep pendidikan Islam, seorang Pendidik itu tidak hanya sekedar menstransfer knowledge, namun lebih dari itu Ia juga harus menstransfer Value (nilai).” Ungkap Prof. Syaiful Akhyar dalam pemaparannya. Dengan dilaksanakannya Seminar Nasional Pendidikan Islam ini, Peserta diharapkan dapat menyikapi perkembangan teknologi dengan bijak dan memanfaatkannya dengan semaksimal mungkin untuk pengembangan kompetensinya, tanpa melupakan hakikat dirinya sebagai manusia yang bermoral dan beradab dengan tetap memegang erat nilai-nilai keislaman. (EL